Gamelan Gadhon era Kiwari: Semakin ke Sini semakin Nggeni

Ditulis oleh Muhamad Ainun Zibran | email: argempata553@gmail.com🇮🇩 Surakarta, IndonesiaDipublikasikan pada Sabtu, 07 Maret 2026.
Gamelan gadhon yang mulai ditinggalkan kini justru menjadi sebuah harta berharga yang melintasi berbagai genre musik
Kelompok Gamelan Unine Mung

Jika Gamelan Gadhon Mati!

Kalau Gamelan Soran biasanya kita dengar menggelegar dan memancing semangat, Gadhon justru mengajak kita melambat. Musisi memainkannya lewat instrumen yang lirih seperti rebab, gender, slenthem, dan siter untuk mengiringi lantunan pesindhen dan gerong. Gadhon sengaja menciptakan ruang intim buat refleksi dan rasa semeleh. Lewat alunan instrumen halus inilah kita mempraktikkan olah rasa dan menyelaraskan mikrokosmos diri dengan makrokosmos semesta.

Apakah Gamelan Menjadi Urakan?

kalau Gamelan Gadhon mati, apakah musik Jawa otomatis jadi urakan? Kita wajar merasa khawatir. Tanpa ruang yang melatih keheningan batin, musik tradisional berisiko cuma jadi ajang pamer keriuhan. Sekarang saja kita sering melihat tren musik Jawa kiwari lebih asyik mengejar beat buat joget, tapi lupa menyentuh ruang spiritual. Kalau unsur alus ini hilang, musik Jawa bisa kehilangan rem filosofisnya dan terkesan "urakan"—cuma sekadar pelampiasan fisik yang bising tanpa tata krama batin.

Namun, apakah absennya Gadhon otomatis membunuh nilai spiritual seutuhnya? Ternyata tidak juga. Nilai spiritual itu liat; ia selalu mencari bentuk baru. Memudar atau hilangnya Gamelan Gadhon mungkin menutup satu jalan meditasi gaya Jawa (heneng-hening), tapi seniman kita selalu punya cara untuk terhubung dengan kesadaran yang lebih tinggi. Nilai itu bisa saja bergeser dari "diam yang hening" menjadi "gerak yang sadar," asalkan para musisi tetap konsisten mengisi karyanya dengan kedalaman makna, bukan cuma jualan sensasi hiburan.

Kemunculan Unine Mung

Di tengah rasa waswas soal tradisi yang memudar tadi, kita justru melihat harapan segar dari pergerakan seniman muda. Coba tengok Unine Mung, sebuah kelompok musik asal Bantul, Yogyakarta, yang diinisiasi oleh Laurentius Hanan Dwi Atmaja. Mereka hadir untuk membuktikan bahwa kita tidak harus mengurung gamelan dalam pakem masa lalu agar instrumen ini tetap hidup.

Unine Mung mengambil langkah yang berani. Mereka mengeksplorasi instrumen dan gaya tradisi, lalu membongkarnya menjadi sajian musik yang sangat dinamis layaknya musik kontemporer. Alih-alih membiarkan gamelan berdebu menjadi barang antik di museum, mereka justru menyuntikkan energi zaman now ke dalam instrumen kuno tersebut.

Eksplorasi Laurentius Hanan Dwi Atmaja dan teman-temannya di Unine Mung memberi jawaban alternatif buat kekhawatiran kita di awal. Mereka menunjukkan secara langsung bahwa musik yang dinamis dan kontemporer itu tidak melulu urakan atau kosong dari nilai spiritual. Lewat dinamika yang menghentak dan aransemen baru, Unine Mung tetap membawa roh "rasa" Jawa yang kental. Mereka merayakan spiritualitas hari ini dengan energi penciptaan yang bebas dan progresif. Pada akhirnya, Unine Mung menyelamatkan gamelan bukan dengan cara mengawetkannya dalam formalitas, tapi dengan membiarkannya hidup, bernapas, dan nyambung dengan telinga pendengar masa kini.