Sebelum kita ngomongin gamelan, kita samakan frekuensi dulu soal apa itu teori fraktal. Singkatnya, fraktal itu adalah konsep geometri di mana sebuah bentuk memiliki pola yang berulang pada skala yang berbeda-beda. Konsep kuncinya adalah self-similarity atau keserupaan diri. Kalau kamu zoom-in atau memperbesar bagian kecil dari sebuah fraktal, bentuk bagian kecil itu ternyata persis sama dengan bentuk keseluruhannya.
Nggak usah pusing ngebayangin rumus matematika, coba aja ingat bentuk daun pakis atau kembang kol (romanesco broccoli). Kalau kamu petik satu cabang kecil daun pakis, bentuk cabang kecil itu adalah miniatur dari daun pakis seutuhnya. Kalau cabang kecil itu kamu patahin lagi, potongannya juga tetap berbentuk daun pakis. Pola yang terus mengulang dirinya sendiri sampai ke ukuran mikroskopis inilah yang disebut fraktal. Nah, yang bikin merinding, konsep zoom-in tanpa batas ini ternyata adalah cetak biru dari cara kerja ansambel gamelan Jawa!
Kalau fraktal visual bisa dilihat pada daun pakis, fraktal dalam gamelan wujudnya berupa pembagian waktu (durasi). Di karawitan, kita kenal yang namanya struktur kolotomik, yaitu pembagian frasa musikal yang ditandai oleh instrumen penegas seperti gong, kenong, kempul, dan kethuk. Ini bukan sekadar penanda biasa, melainkan sebuah pembagian ruang dan waktu yang sangat matematis dan simetris.
Bayangkan satu siklus gongan (jarak dari satu pukulan gong ke gong berikutnya) sebagai satu daun pakis utuh. Siklus besar ini kemudian dibagi dua secara presisi oleh kenong. Ruang antara kenong itu dibagi lagi oleh kempul, dan ruang yang lebih kecil itu dibagi lagi oleh kethuk, hingga ke pukulan saron (sabetan) yang paling rapat. Setiap instrumen punya porsinya masing-masing dalam membelah waktu, menciptakan lapisan-lapisan siklus kecil di dalam siklus yang lebih besar. Keteraturan pembagian ini (biasanya dalam kelipatan dua: 2, 4, 8, 16, 32) menciptakan arsitektur waktu yang presisi. Jadi, tanpa sadar, saat para musisi menabuh instrumen berpencon tersebut, mereka sedang merajut geometri fraktal di udara.
Bagian paling "mind-blowing" dari hubungan gamelan dan fraktal ada pada konsep irama. Dalam musik Barat modern, kalau tempo dilambatkan, ya melodi dan semua alat musiknya ikut melambat secara proporsional. Tapi gamelan nggak main sesederhana itu. Saat gendhing beralih dari Irama Lancar, ke Tanggung, ke Dadi, lalu ke Wilet dan Rangkep, balungan (melodi utama) memang bergerak semakin lambat dan jarak antar nadanya merenggang. Tapi apa yang terjadi pada instrumen ngarep (depan) seperti bonang, gender, dan siter?
Alih-alih ikut melambat, instrumen ngarep justru melipatgandakan kepadatannya! Saat jarak antar nada balungan melebar (seperti gambar fraktal yang sedang di-zoom in), ruang kosong yang tercipta itu langsung diisi oleh rincian ornamen atau cengkok dari gender dan bonang yang berlipat ganda dua hingga empat kali lebih rapat. Ini adalah implementasi sempurna dari teori fraktal di dunia suara. Semakin dalam kita membedah melodi (tempo semakin lambat), semakin banyak detail kecil yang bentuk polanya identik dengan struktur besarnya. Otonomi pelebaran ruang ini bikin musiknya kerasa mengalir tanpa henti.
Lalu, apa efek dari konstruksi fraktal musikal ini buat kita yang dengerin? Ilmu sains dan psikologi modern menemukan bahwa otak manusia secara alami sangat menyukai dan merasa rileks ketika merespons pola-pola fraktal. Melihat ombak laut, menatap ranting pohon, atau memandangi awan bikin kita tenang karena mata kita sedang mengonsumsi geometri fraktal alam.
Hal yang sama persis terjadi pada pendengaran kita saat meresapi gamelan. Gamelan sering kali disebut bikin adem, trans, atau seperti menghipnotis, bukan karena ada unsur mistisnya, melainkan karena telinga dan otak kita sedang disuguhi pola self-similarity yang repetitif dan presisi secara berlapis-lapis. Leluhur Nusantara mungkin tidak menuliskan rumus matematika di atas kertas, namun lewat laku budaya dan kepekaan rasa, mereka berhasil mengukir hukum alam semesta tersebut di atas lempengan perunggu.