"Bagaimana penilaian artistik terhadap lukisan ini?"
[ Lukisan karya Susilo Bambang Yudhoyono - Terjual Rp 6,5 Miliyar ]
*Bagaimana Penilaian Artistiknya?
"Tidak ada Jalan Keluar Non-Teoritis, Bahkan untuk menolak Teori kita perlu Teori."
[ REFERENSI ]
Karya: Martin Suryajaya (2024)
*Buku ini membahas secara mendalam bagaimana Pembacaan-Pembacaan Estetika dilakukan secara teoritis sekaligus menjadi studi kritik pada karya seni.
Dari sebuah aktivitas merenung dan observasi, menjadi sekadar tumpukan teks di dalam buku. Bagaimana ini terjadi?
KLIK MEMBUKA
Kata teori berasal dari bahasa Yunani theoria, yang awalnya berarti "melihat", "merenungkan", atau "memperhatikan sesuatu dengan saksama".
Di masa lalu—seperti di era Socrates—teori sering kali berbentuk dialog lisan dan observasi langsung di lapangan. Dahulu, antara teori dan praktik selalu berjalan bersama sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
KLIK MEMBUKA
Sekarang, teori dan praktik mulai terpisah. Muncul stigma: "Hanya teori saja, tidak bisa praktik."
Di kampus, mengapa mata kuliah praktik dan teori dipisah? Teori bahkan sering dianggap sebagai "jalur pelarian" bagi mahasiswa yang kurang mahir berpraktik (menabuh). Ironisnya, mata kuliah praktik sering berjalan tanpa dilandasi referensi metodologis.
KLIK MEMBUKA
Mata kuliah teori kini selalu diidentikkan dengan buku dan referensi teoritis.
Akibatnya, banyak seniman dan mahasiswa menganggap bahwa "teori itu ya apapun yang ada di dalam buku." Padahal, setiap kali kita menjalankan praktik di lapangan, bereksperimen, dan menabuh gamelan, kita sejatinya sedang menjalankan dan memproduksi teori itu sendiri.
Bagaimana mungkin kita memisahkan teori dari praktik, jika setiap praktik pasti berteori?
KLIK MEMBUKA
KLIK MEMBUKA
Sebenarnya praktik yang kita tirukan jalan sekarang ini paradigma siapa?
Dan apakah praktik tersebut adalah sebuah kemutlakan?
Mari dengarkan audio dengan kaidah teoritis dari lapangan yang seringkali bersifat kontradiktif.
[Jaapkunts Collection, 1930]
[Beka Record, Puro Mangkunegaran, 1930]
Apakah teori bersifat Deskriptif, atau bersifat Preskriptif, kita harus memposisikannya.
Sejarah membuktikan: tidak ada tradisi yang lahir tanpa keberanian mendobrak pakem.
BUKA ANALISIS
Evolusi dari instrumen dawai/tiup menuju dominasi perunggu (gamelan) adalah bentuk "pelanggaran" pakem yang masif di masanya.
Jika posisi kita tidak sadar, kita akan terjebak pada romantisme masa lalu dan luput melihat bahwa seni selalu menuntut perubahan.
BUKA ANALISIS
RL Martopangrawit tidak hanya bertindak sebagai "Arsiparis" pasif yang sekadar mencatat lisan. Beliau adalah seorang "Arsitek".
Dengan merumuskan sistemasi titilaras, beliau memposisikan teori sebagai Keilmuan Terapan (Preskriptif) yang secara aktif memandu, merasionalkan, dan merekonstruksi arah pewarisan karawitan.
BUKA ANALISIS
I Wayan Sadra mendobrak batas estetik. "Bebaskan bunyi dari Kulturnya".
Ia membuktikan bahwa teori bukanlah penjara sejarah masa lalu, melainkan fondasi yang harus terus diperbarui agar menjadi kompas penentu masa depan.
Praktik berarti riset dan uji coba langsung di lapangan.
Eksplorasi menghasilkan pengetahuan baru. Selalu bergerak lebih cepat dari buku teks.
Pelarasan wajib menggunakan telinga (peka auditif).
Kondisi fisik saya tidak relevan dengan dogma itu. Seni pantang berhenti!
Jika metode lama usang, ciptakan alat yang relevan.
Lalu jadikan alat tersebut sebagai landasan teori & metodologi baru!
Integrasi teknologi analisis presisi untuk mengatasi bias auditif subjektif.
Visualisasi data frekuensi dan pelarasan (tuning) secara *real-time*.
- Muhamad Ainun Zibran -